Minggu, 21 November 2010

Tulisan yang menyangkut Etika Bisnis 3

1. Pengertian Etika

Etika berasal dari dari kata YunaniEthos’ (jamakta etha), berarti adat istiadat

Etika berkaitan dengan kebiasaan hidup yang baik, baik pada diri seseorang maupun pada suatu masyarakat

Etika berkaitan dengan nilai-nilai, tatacara hidup yg baik, aturan hidup yg baik dan segala kebiasaan yg dianut dan diwariskan dari satu orang ke orang yang lain atau dari satu generasi ke generasi yg lain


Etika sebagai Filsafat Moral

Etika sebagai filsafat moral tidak langsung memberi perintah konkret sebagai pegang

siap pakai.

Etika dapat dirumuskan sebagai refleksi kritis dan rasional mengenai

a.Nilai dan norma yang menyangkut bagaimana manusia harus hidup baik sebagai manusia

Masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma moral yang umum diterima.

b. Masalah kehidupan manusia dengan mendasarkan diri pada nilai dan norma moral yang umum diterima

Etika sebagai sebuah ilmu yang terutama menitikberatkan refleksi kritis dan rasional,

a.Mempersoalkan apakah nilai dan norma moral tertentu memang harus dilaksanakan dalam situasi konkret terutama yang dihadapi seseorang.

b.Etika mempersoalkan apakah suatu tindakan yang kelihatan bertentangan dengan nilai dan norma moral tertentu harus dianggap sebagai tindakan yang tidak etis dan karena itu dikutuk atau justru sebaliknya

c.Apakah dalam situasi konkret yang saya hadapi saya memang harus bertindak sesuai dengan norma yang ada dalam masyarakatku ataukah justru sebaliknya saya dapat dibenarkan untuk bertindak sebaliknya yang bahkan melawan nilai dan norma moral tertentu.


Etika sebagai Ilmu menuntut orang untuk berperilaku moral secara kritis dan rasional.

Dengan menggunakan bahasa Nietzcshe, etika sebagai ilmu menghimbau orang untuk memiliki moralita tuan dan bukan moralitas hamba

Dalam bahasa Kant, etika berusaha menggugah kesadaran manusia untuk bertindak secara otonom dan bukan secara heteronom. Etika bermaksud membantu manusia untuk bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggungjawabkan.


Sumber :

Teori-teori etika bisnis, dengan mencari di google:

http://ashur.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/15642/Teori-Teori+Etika+Bisnis+-+

Rabu, 17 November 2010

Tugas : Tanggung Jawab sosial perusahaan

Penerapan CSR di perusahaan akan menciptakan iklim saling percaya di dalamnya, yang akan menaikkan motivasi dan komitmen karyawan. Pihak konsumen, investor, pemasok, dan stakeholders yang lain juga telah terbukti lebih mendukung perusahaan yang dinilai bertanggung jawab sosial, sehingga meningkatkan peluang pasar dan keunggulan kompetitifnya. Dengan segala kelebihan itu, perusahaan yang menerapkan CSR akan menunjukkan kinerja yang lebih baik serta keuntungan dan pertumbuhan yang meningkat.

CSR adalah basis teori tentang perlunya sebuah perusahaan membangun hubungan harmonis dengan masyarakat tempatan. Secara teoretik, CSR dapat didefinisikan sebagai tanggung jawab moral suatu perusahaan terhadap para strategic-stakeholdersnya, terutama komunitas atau masyarakat disekitar wilayah kerja dan operasinya. CSR memandang perusahaan sebagai agen moral. Dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah perusahaan harus menjunjung tinggi moralitas. Parameter keberhasilan suatu perusahaan dalam sudut pandang CSR adalah pengedepankan prinsip moral dan etis, yakni menggapai suatu hasil terbaik, tanpa merugikan kelompok masyarakat lainnya. Salah satu prinsip moral yang sering digunakan adalah golden-rules, yang mengajarkan agar seseorang atau suatu pihak memperlakukan orang lain sama seperti apa yang mereka ingin diperlakukan. Dengan begitu, perusahaan yang bekerja dengan mengedepankan prinsip moral dan etis akan memberikan manfaat terbesar bagi masyarakat.

Istilah, pengertian dan pemahaman tentang tanggung jawab sosial perusahaan/Corporate Social Responsibility (CSR) selama ini masih selalu menjadi pedebatan yang hangat oleh para pendukung dan para penentangnya. Kedua kutup yang berbeda pandangan tersebut masing-masing mempunyai argumentasi yang bertentangan satu terhadap yang lain sesuai dengan kedudukan dan kepentingannya.

Salah satu perbedaan tajam yang ada antara lain adalah mengenai :
- Apakah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan/Tanggung Jawab Sosial Perusahaan itu berada pada ranah etika (etika bisnis) atau harus berada pada ranah hukum ?
- Apakah Tanggung Jawab Sosial Perusahaan perlu diatur dalam perundangan atau tidak perlu diatur secara formal disertai dengan sanksi-sanksi yang tegas ?

Pendukung dan penentang Tanggung Jawab Sosial Perusahaan pada dasarnya mempunyai alasan masing-masing, karena latar belakang pencapaian tujuan dan sasaran yang berbeda dalam kepentingan yang berhadapan.

Para pendukung konsep regulasi maupun penerapan TJSP secara jelas dan tegas, berpendapat bahwa TJSP tersebut sesungguhnya untuk kepentingan manusia dan kemanusiaan, sehingga harus diatur dengan jelas dan tegas. Sedangkan dari para penentangnya, menyatakan tidak perlu diatur dengan tegas, serahkan saja kepada para pelaku.

Ke depan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, apabila dilaksanakan dengan benar, akan memberikan dampak positif bagi perusahaan, lingkungan, termasuk sumber daya manusia, sumber daya alam dan seluruh pemangku kepentingan dalam masyarakat. Perusahaan yang mampu sebagai penyerap tenaga kerja, mempunyai kemampuan memberikan peningkatan daya beli masyarakat, yang secara langsung atau tidak, dapat mewujudkan pertumbuhan lingkungan dan seterusnya. Mengingat kegiatan perusahaan itu sifatnya simultan, maka keberadaan perusahaan yang taat lingkungan akan lebih bermakna.

Pada dasarnya setiap kegiatan perusahaan yang berhubungan dengan sumber daya alam, pasti mengandung nilai positif, baik bagi internal perusahaan maupun bagi eksternal perusahaan dan pemangku kepentingan yang lain. Meskipun demikian nilai positif tersebut dapat mendorong terjadinya tindakan-tindakan dan perbuatan-perbuatan yang akhirnya mempunyai nilai negatif, karena merugikan lingkungan, masyarakat sekitar atau masyarakat lain yang lebih luas. Nilai negatif yang dimaksud adalah seberapa jauh kegiatan perusahaan yang bersangkutan mempunyai potensi merugikan lingkungan dan masyarakat. Atau seberapa luas perusahaan lingkungan terjadi sebagai akibat langsung dari kegiatan perusahaan.

Perusahaan yang pada satu sisi pada suatu waktu menjadi pusat kegiatan yang membawa kesejahteraan bahkan kemakmuran bagi masyarakat, pada satu saat yang sama dapat menjadi sumber petaka pada lingkungan yang sama pula. Misalnya terjadi pencemaran lingkungan atau bahkan menyebabkan kerusakan alam dan lingkungan lain yang lebih luas.

Tanggung Jawab Sosial Perusahaan, pada dasarnya berawal dari rasa bertanggung jawab secara personal pada suatu lingkungan dunia usaha, yang muncul dari pribadi-pribadi yang peka kepada sesama. Rasa tersebut timbul dan berkembang sebagai suatu yang harus dilakukan mengingat adanya kesenjangan keadaan sosial ekonomi yang tajam, antara unsur tenaga kerja dengan unsur pemilik dan pengurus dalam dunia usaha tersebut.

Berangkat dari keadaan tersebut, lahirnya konsep Tanggung Jawab Sosial Perusahaan yang berada pada sasaran kewajiban-kewajiban moral. Dari kewajiban-kewajiban moral yang bergerak antara kesejahteraan pada lingkungan tertentu, menimbulkan pula suatu konsep bahwa yang harus diwujudkan adalah kesejahteraan bersama. Hal ini baru menjangkau pada kesejahteraan bersama pada lingkungan perusahaan masing-masing. Kesejahteraan yang bersifat terbatas, makin meluas yang diikuti oleh gerakan-gerakan yang sama sehingga menjadi suatu konsep positif yang menjadi tanggung jawab institusional. Dalam hal ini perlu dilakukan penerapan yang meliputi suatu pelaksanaan untuk menerapkan:
- Upah minimal yang pantas untuk hidup layak.
- Keselamatan kerja yang cukup untuk melindungi tenaga kerja.
- Jaminan sosial yang pantas untuk masa depan tenaga kerja dan keluarganya dengan pantas.


Sumber :
http://www.madani-ri.com/2008/01/17/standarisasi-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-bag-i/
http://www.djpp.depkumham.go.id/hukum-pedata/848-tanggung-jawab-sosial-perusahaan-suatu-kajian-komprehensif.html

Sabtu, 13 November 2010

Tulisan yang menyangkut Etika Bisnis 2

Nama : Kristy Septin Barasa
NPM : 10207637
Kelas : 4EA03
Etika Bisnis
Etika bisnis merupakan studi yang dikhususkan mengenai moral yang benar dan salah.
Studi ini berkonsentrasi pada standar moral sebagaimana diterapkan dalam kebijakan,
institusi, dan perilaku bisnis.
Etika bisnis merupakan studi standar formal dan bagaimana standar itu diterapkan ke
dalam system dan organisasi yang digunakan masyarakat modern untuk memproduksi
dan mendistribusikan barang dan jasa dan diterapkan kepada orang-orang yang ada di
dalam organisasi.

Teknologi dan Etika Bisnis
Teknologi yang berkembang di akhir dekade abad ke-20 mentransformasi masyarakat
dan bisnis, dan menciptakan potensi problem etis baru. Yang paling mencolok adalah
revolusi dalam bioteknologi dan teknologi informasi. Teknologi menyebabkan beberapa
perubahan radikal, seperti globalisasi yang berkembang pesat dan hilangnya jarak,
kemampuan menemukan bentuk-bentuk kehidupan baru yang keuntungan dan resikonya
tidak terprediksi. Dengan perubahan cepat ini, organisasi bisnis berhadapan dengan
setumpuk persoalan etis baru yang menarik.

Globalisasi, Perusahaan Multinasional dan Etika Bisnis
Globalisasi adalah proses yang meliputi seluruh dunia dan menyebabkan system ekonomi
serta sosial negara-negara menjadi terhubung bersama, termasuk didalamnya barangbarang,
jasa, modal, pengetahuan, dan peninggalan budaya yang diperdagangkan dan
saling berpindah dari satu negara ke negara lain. Proses ini mempunyai beberapa
komponen, termasuk didalamnya penurunan rintangan perdagangan dan munculnya pasar
terbuka dunia, kreasi komunikasi global dan system transportasi seperti internet dan
pelayaran global, perkembangan organisasi perdagangan dunia (WTO), bank dunia, IMF,
dan lain sebagainya.

ARGUMEN YANG MENDUKUNG DAN YANG MENETANG ETIKA BISNIS
Banyak yang keberatan dengan penerapan standar moral dalam aktivitas bisnis. Bagian
ini membahas keberatan-keberatan tersebut dan melihat apa yang dapat dikatakan
berkenaan dengan kesetujuan untuk menerapkan etika ke dalam bisnis.

Tiga keberatan atas penerapan etika ke dalam bisnis :
1. Orang yang terlibat dalam bisnis, kata mereka hendaknya berfokus pada pencarian
keuntungan finansial bisnis mereka dan tidak membuang-buang energi mereka atau
sumber daya perusahaan untuk melakukan ”pekerjaan baik”.
Pertama, beberapa berpendapat bahwa di pasar bebas kompetitif sempurna, pencarian
keuntungan dengan sendirinya menekankan bahwa anggota masyarakat berfungsi dengan
cara-cara yang paling menguntungkan secara sosial. Agar beruntung, masing-masing
perusahaan harus memproduksi hanya apa yang diinginkan oleh anggota masyarakat dan
harus melakukannya dengan cara yang paling efisien yang tersedia. Anggota masyarakat
akan sangat beruntung jika manajer tidak memaksakan nilai-nilai pada bisnis, namun
mengabdikan dirinya pada pencarian keuntungan yang berfokus.
Argumen tersebut menyembunyikan sejumlah asumsi yaitu :
Tiga argumen diajukan untuk mendukung perusahaan ini :
Pertama, sebagian besar
industri tidak ”kompetitif secara sempurna”, dan sejauh sejauh perusahaan tidak harus
berkompetisi, mereka dapat memaksimumkan keuntungan sekalipun produksi tidak
efisien.
2. Sebagai agen yang loyal dari majikannya manajer mempunyai kewajiban untuk melayani
majikannya ketika majikan ingin dilayani (jika majikan memiliki keakhlian agen).
Majikan ingin dilayani dengan cara apapun yang akan memajukan kepentingannya
sendiri. Dengan demikian sebagai agen yang loyal dari majikannya, manajer mempunyai
kewajiban untuk melayani majikannya dengan cara apapun yang akan memajukan
kepentingannya.
Argumen agen yang loyal adalah keliru, karena ”dalam menentukan apakah perintah
klien kepada agen masuk akal atau tidak... etika bisnis atau profesional harus
mempertimbangkan” dan ”dalam peristiwa apapun dinyatakan bahwa agen mempunyai
kewajiban untuk tidak melaksanakan tindakan yang ilegal atau tidak etis”. Dengan
demikian, kewajiban manajer untuk mengabdi kepada majikannya, dibatasi oleh batasanbatasan
moralitas.
3. untuk menjadi etis cukuplah bagi orang-orang bisnis sekedar mentaati hukum :
Etika bisnis pada dasarnya adalah mentaati hukum.
Terkadang kita salah memandang hukum dan etika terlihat identik. Benar bahwa hukum
tertentu menuntut perilaku yang sama yang juga dituntut standar moral kita. Namun
demikian, hukum dan moral tidak selalu serupa. Beberapa hukum tidak punya kaitan
dengan moralitas, bahkan hukum melanggar standar moral sehingga bertentangan dengan
moralitas, seperti hukum perbudakan yang memperbolehkan kita memperlakukan budak
sebagai properti. Jelas bahwa etika tidak begitu saja mengikuti hukum.
Namun tidak berarti etika tidak mempunyai kaitan dengan hukum. Standar Moral kita
kadang dimasukan ke dalam hukum ketika kebanyakan dari kita merasa bahwa standar
moral harus ditegakkan dengan kekuatan sistem hukum sebaliknya, hukum dikritik dan
dihapuskan ketika jelas-jelas melanggar standar moral.
Kasus etika dalam bisnis

Sumber :

Rabu, 10 November 2010

Tulisan yang menyangkut Etika Bisnis 1

Nama : Kristy Septin Barasa
Kelas : 4EA03
NPM : 10207637

Secara sederhana yang dimaksud dengan etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan individu, perusahaan, industri dan juga masyarakat.

Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat.

Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hukum.

Von der Embse dan R.A. Wagley dalam artikelnya di Advance Managemen Jouurnal (1988), memberikan tiga pendekatan dasar dalam merumuskan tingkah laku etika bisnis, yaitu :

Utilitarian Approach : setiap tindakan harus didasarkan pada konsekuensinya. Oleh karena itu, dalam bertindak seseorang seharusnya mengikuti cara-cara yang dapat memberi manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat, dengan cara yang tidak membahayakan dan dengan biaya serendah-rendahnya.
Individual Rights Approach : setiap orang dalam tindakan dan kelakuannya memiliki hak dasar yang harus dihormati. Namun tindakan ataupun tingkah laku tersebut harus dihindari apabila diperkirakan akan menyebabkan terjadi benturan dengan hak orang lain.
Justice Approach : para pembuat keputusan mempunyai kedudukan yang sama, dan bertindak adil dalam memberikan pelayanan kepada pelanggan baik secara perseorangan ataupun secara kelompok.
Etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh.

Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.

Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena :

Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal.
Mampu meningkatkan motivasi pekerja.
Melindungi prinsip kebebasan berniaga
Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.
Tidak bisa dipungkiri, tindakan yang tidak etis yang dilakukan oleh perusahaan akan memancing tindakan balasan dari konsumen dan masyarakat dan akan sangat kontra produktif, misalnya melalui gerakan pemboikotan, larangan beredar, larangan beroperasi dan lain sebagainya. Hal ini akan dapat menurunkan nilai penjualan maupun nilai perusahaan.

Sedangkan perusahaan yang menjunjung tinggi nilai-nilai etika bisnis, pada umumnya termasuk perusahaan yang memiliki peringkat kepuasan bekerja yang tinggi pula, terutama apabila perusahaan tidak mentolerir tindakan yang tidak etis, misalnya diskriminasi dalam sistem remunerasi atau jenjang karier.

Perlu dipahami, karyawan yang berkualitas adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan harus semaksimal mungkin harus mempertahankan karyawannya.

Untuk memudahkan penerapan etika perusahaan dalam kegiatan sehari-hari maka nilai-nilai yang terkandung dalam etika bisnis harus dituangkan kedalam manajemen korporasi yakni dengan cara :

Menuangkan etika bisnis dalam suatu kode etik (code of conduct)
Memperkuat sistem pengawasan
Menyelenggarakan pelatihan (training) untuk karyawan secara terus menerus.

Sumber:

Sabtu, 06 November 2010

Tugas Etika Bisnis (Buat Praktek Bisnis yang Tidak beretika)

Nama : Kristy Septin.B
Kelas : 4EA03
Npm : 10207637

PELANGGARAN ETIKA BISNIS TERHADAP PELAYANAN

KASUS

Dalam beberapa tahun terakhir ini, hampir setiap hari kabar pemadaman listrik oleh PLN menyebar keseluruh daerah. Dari sudut ekonomi listrik di Indonesia merupakan hambatan untuk meningkatkan daya saing. Hal ini dapat menurunkan minat investor asing untuk menanamkan modalnya di Indonesia. PLN melakukan upaya mengenai krisis listrik diantaranya menghimbau masyarakat untuk melakukan penghematan pemakaian listirik dan sebagian atau beberapa masyarakat pun melakukannya.

Upaya lain yang dilakukan PLN adalah menambah pasokan listrik melalui proyek pembangkit listrik 10.000 megawatt ( MW ) dengan dominasi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara. Sejak tahun 2006, sekitar 34 proyek PLTU tersebar di pualu jawa dan luar jawa dicanangkan. Pengerjaan proyek ini tidak berjalan mulus, Karena komitmen pendanaan dari lembaga keuangan beberapa Negara seperti tiongkok mengalami renegosiasi akibat krisis ekonomi.

Dalam hal ini kasus PLN dapat dikatakan melanggar pelayanan prima bagi masyarakat maupun dunia bisnis.


TANGGAPAN

Dalam kasus ini, PLN dikatakan melanggar pelayanan prima terhadap masyarakat dan dunia bisnis karena tidak memberikan pelayanan yang baik tapi sebaliknya mengecewakan masyarakat karena masyarakat juga sudah mengikuti keinginan dari pihak PLN untuk mengurangi pemakaian listrik. Yang paling besar dirugikan adalah dunia bisnis karena menghambat proses produksi dan menurunkan minat investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia yang tentunya akan semakin merugikan pendapatan Negara.

Senin, 31 Mei 2010

Resensi Bahsa Indonesia 2

Referensi Penelitian Ilmiah
1. PEMASARAN
Prinsip dan Kasus
Edisi 2

- Drs. Irawan, M.B.A
- Dr. Faried Wijaya M., M.A.
Dosen Fakultas Ekonomi
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
- Ir. M.N. Sudjoni, M.B.A
Dosen Universitas Islam
Malang

Inti dari Buku ini:
= Lingkungan pemasaran perusahaan terdiri dari para perilaku dan kekuatan yang berasal dari luar fungsi manajemen pemasaran perusahaan yang mempengaruhi kemampuan manajemen pemasaran untuk mengembangkan dan mempertahankan transaksi yang sukses dengan para pelanggan sasaran.

= Pengertian Manajemen Pemasaran adalah analisi, perencanaan, penerapan, dan pengendalian terhadap program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran dan hubungan yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi.

Dicetak & Diterbitkan
BPFE-Yogyakarta
Yogyakarta
Anggota IKAPI
No-003






2. Analisis
Regresi Linear Ganda
Dengan
SPSS

R. Gunawan Sudarmanto

Inti dari Buku ini:
Menggunakan regresi sebagai alat analisis dapat menemukan tempat-tempat sebgai kedudukan atau lokasi dari rata-rata suatu variabel tergantung untuk berbagai nilai dari satu atau lebih variabel bebas. Temapt kedudakan atau lokasi tersebut merupakan kumpulan titik-titik yang dapat ditarik suatu garis atau kurva tertentu dan disebut dengan istilah garis regresi. Bentuk garis atau kurva yang dihasilkan dari kumpulan titik-titik tersebut dapat berupa fungsi linear atau fungsi yang tidak linear. Fungsi linear akan berbentuk garis lurus yang menaik atau sebaliknya menurun. Fungsi yang tidak linear di anataranya berupa fungsi kuadratik, fungsi logaritmik, dan sebagainya yang tentu saja akan mempunyai bentuk garis yang tidak lurus.

Edisi Pertama
Penerbit Graha Ilmu
Yogyakarta
2005

Senin, 10 Mei 2010

analisis faktor hubungan situasional terhadap pembelian pakaian di kalangan mahasiswa gunadarma

BAB I
PENADAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Fashion,bila kita kita membicarakan fashion yang terlintas dalam benak pikiran kita adalah pakaian dan segala macam bentuk acssesorisnya.Di kalangan Mahasiswa terutamanya.mereka sangat mengikuti perkembangan jaman.Apalagi di bidang fashion seolah – olah itu adalah kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.Tidak salah lagi sebagian Masyarakat atau Mahasiswa mengerti fashion dan ada pula yang beranggapan fashion adalah salah satu gaya hidup dan mencirikan kepribadian orang yang memakai tersebut.Disekitar kota Depok ini telah banyak pula butik,toko – toko fashion tersebut di kota Depok ini untuk memenuhi kebutuhan dari para konsumenya.
Produk pakain sebagaimana yang kita ketahui ada salah satu produk pakaian yang tidak terencanakan,karena merupakan kegiatan yang sesuai dengan minat dan kemampuan ,bila minat pada pakaian tersebut sebab pakaian itu memiliki jenis pakaian yang bagus dan unik.Demikian juga bagi kalangan mahasiswa yang sebagian besar sangat tertarik dalam membeli dan memiliki pakaian dan produk ini merupakan jenis produk sangat diminati kalangan mahasiswa karena telah mengikuti perkembagan jenis dan model pakaian ini.Mahasiswa melakukan pembelian dapat saja terjadi karena situasi yang memaksakan konsumen untuk melakukan pembelian muncul pada berbagai tempat dan waktu yang belum terencanakan sebelumnya.
Pengaruh situasional adalah faktor-faktor yang penting dalam waktu dan di tempat pengamatan yang tidak ada hubungannya dengan atribut pribadi ataupun stimulus, mempunyai efek yang sistematis dan bisa dilihat, terhadap perilaku seseorang. Jadi, situasi merupakan faktor-faktor di luar dan dipisahkan dari produk dan atau iklan tentang produk yang mempengaruhi konsumen. Konsumen tidak merespon stimulus pemasaran itu saja, tetapi bersama-sama dengan situasi,dimana situasional ini dipengaruhi oleh beberapa aspek yaitu:Lingkungan Fisik(phsical surroundings),Lingkungan sosial(social surroundings),Perspektif Temporal(Temporal Perspective)
Di penelitian ini saya akan meneliti kebiasaan Mahasiswa Gunadarma dalam membeli Pakaian sesuai dengan Lingkungan Fisik(Phsical Surroundings),Lingkungan Sosial(Social Surroundings),Perspektif Temporal(Temporal Perspective).
1.2 Rumusan dan Batasan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut maka permasalahn dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis hubungan Variabel faktor situasional terhadap pembelian pakaian di kalangan Mahasiswa Gunadarma!
2. Untuk mengetahui pengaruh pembelian pakaian terhadap iklan dan promosi !

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan Latar Belakang penelitian dan perumusan masalah,maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Menganalisis hubungan antara Lingkungan Fisik (Phisical Surroundings) dan Pembelian
2. Menganalisis hubungan antara Lingkungan Sosial (Social Surroundings dan Pembelian
3. Menganalisi hubungan antara Perspektif Temporal (Temporal Perspective) dan Pembelian

1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan Latar Belakang Penelitian dan perumusan masalah maka,Manfaat penelitian ini adalah:
1. Manfaat Penulis adalah lebih memahami faktor hubungan situasional dan seberapa besar pengaruh situasional bagi konsumen
2. Manfaat Praktis adalah Sebagai masukan yang mungkin dapt digunakan untuk membantu dalam meningkatkan penjualan yang akan menimbulkan minat untuk membeli lagi.

1.5 Metode Penelitian
Metode yang penelitian yang di gunakan sesuai dengan Latar Belakang Penelitian.
1.5.1 Objek Penelitian
Objek Penelitian yang di ambil adalah Mahasiswa Gunadarma
1.5.2 Data/Variabel
Data atau Variabel yang digunakan adalah
 Lingkungan Fisik(Phsical Surroundings)
 Lingkungan Sosial(Social Surroundings)
 Perspektif Temporal(Temporal Perspective)
1.5.3 Metode Pengumpulan Data/Variabel
Data Sekunder
Adalah data yang diambil secara kuesioner yang diambil dari Mahasiswa
Gundarma,Tingkat 3,Jurusan Manajemen.